Apa jadinya jika kamu dipaksa meninggalkan keyakinanmu? Dihadapkan pada pilihan: berpura-pura menjadi orang lain atau kehilangan nyawa—itulah dilema yang dihadapi umat Islam di Spanyol awal 1500-an. Dan di tengah tekanan itulah, muncul sebuah fatwa unik dari Afrika Utara yang menjadi cahaya di tengah gelap: Fatwa Oran.
Setelah jatuhnya Granada pada 1492—titik akhir kejayaan Islam di Andalusia—umat Islam di Spanyol tidak lagi dianggap sebagai warga negara, tetapi sebagai “masalah” yang harus dihapuskan. Antara tahun 1500–1502, ribuan Muslim dipaksa masuk Kristen atau menghadapi hukuman berat, termasuk pengusiran dan hukuman mati.
Umat Islam yang memilih bertahan tidak lagi bisa menunjukkan identitas mereka secara terbuka. Mereka menjadi crypto-Muslims, alias Muslim rahasia, yang hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.
Dalam kondisi seperti ini, datanglah Fatwa Oran, sebuah respons hukum dari Ahmad ibn Abi Jum’ah—seorang ulama mazhab Maliki dari Oran, Aljazair. Walaupun secara resmi fatwa ini tidak berasal dari Spanyol, ia disambut bak pesan penyelamat dari seberang lautan.
Isi fatwa ini sangat luar biasa: ia membolehkan umat Islam berpura-pura menjadi Kristen demi bertahan hidup.
Beberapa hal yang diizinkan dalam fatwa ini termasuk:
-
Berpura-pura mengikuti misa dan upacara Kristen.
-
Mengucapkan hal-hal yang bisa dianggap menghina Islam—kalau itu satu-satunya cara selamat.
-
Makan daging babi, minum anggur—selama itu dipaksa dan bukan pilihan bebas.
-
Melakukan salat secara sembunyi-sembunyi atau diganti dengan bentuk yang lebih sederhana sesuai kondisi.
Bagi kita yang hidup bebas beribadah hari ini, isi fatwa ini mungkin terasa ekstrem. Tapi bagi mereka, ini adalah soal hidup dan mati.
Fatwa Oran tidak hanya dibaca, tapi dijadikan pegangan oleh banyak Muslim Spanyol. Bahkan sampai puluhan tahun kemudian, salinan-salinan terjemahannya masih ditemukan dalam bahasa Spanyol yang ditulis dengan huruf Arab (aljamiado). Salah satu salinannya bertanggal 1564—lebih dari 60 tahun setelah fatwa ini dikeluarkan.
Bagi para Morisco (sebutan untuk Muslim yang dipaksa menjadi Kristen), fatwa ini adalah simbol harapan: bahwa agama bisa tetap hidup, walau hanya dalam hati dan diam-diam.
Respons Dunia Islam: Tidak Semua Setuju
Meski penting bagi Muslim Spanyol, fatwa ini justru kontroversial di dunia Islam luar. Banyak ulama dari Afrika Utara, Timur Tengah, bahkan dari mazhab yang sama, justru menganjurkan umat Islam untuk berhijrah dari wilayah non-Muslim atau bahkan memilih mati syahid, jika tak bisa menjalankan agama dengan benar.
Namun Fatwa Oran menawarkan pendekatan lain: bahwa dalam kondisi ekstrem, fleksibilitas hukum Islam bisa menjadi rahmat, bukan beban.
Mengapa generasi hari ini perlu tahu tentang Fatwa Oran? Karena ia bicara tentang iman, adaptasi, dan keberanian bertahan. Ia mengajarkan bahwa identitas tak selalu harus ditunjukkan dengan simbol luar, tapi bisa dijaga dalam hati. Dalam dunia yang kadang memaksa kita untuk memilih antara prinsip dan kenyamanan, kisah ini mengajak kita berpikir ulang: sejauh mana kita siap bertahan demi keyakinan?
.jpeg)







