Selasa, 11 Februari 2025

Agama adalah Perilaku dari proses Habituasi

Bagi saya, agama bukan hanya soal ibadah ritual, juga bukan hanya tentang seberapa sering kita sholat, seberapa fasih kita membaca Al-Qur’an, atau seberapa banyak doa yang kita hafal. Lebih dari itu, agama adalah perilaku. Dan perilaku itu dibentuk oleh habitus—kebiasaan yang terinternalisasi sejak kecil, yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari, hingga tanpa sadar menjadi bagian dari diri kita.

Saya tumbuh dalam keluarga yang menjadikan ibadah sebagai bagian dari ritme harian. Setiap subuh, pintu kamar kami selalu diketuk oleh ayah atau ibu. Jika kami tak kunjung bangun, jurus selanjutnya pun keluar: menekan badan kami sambil menggelitik. Tunggu dulu kodonge… ku kumpul dulu nyawaku… Itu kalimat yang sering saya ucapkan di tengah kantuk. Tapi, mau tak mau, akhirnya kami bangun juga, mengambil air wudhu, dan sholat berjamaah.

Di rumah kami, ibadah bukan sekadar kewajiban individual, melainkan kebiasaan kolektif yang dilakukan bersama. Zikir dan doa sesudah sholat bukan hanya tambahan, tetapi bagian dari rutinitas. Saat itu, saya tidak berpikir banyak soal maknanya, saya hanya melakukannya karena begitulah yang diajarkan.

Tapi, waktu berjalan. Kebiasaan yang dulu terasa default, perlahan-lahan berubah seiring dengan perubahan lingkungan. Ketika jauh dari rumah, jauh dari kebiasaan keluarga, saya mulai sering melewatkan momen-momen zikir dan doa itu.

Seorang kawan, Majdy, pernah berkata, "Ciri santri itu, tidak pernah melewatkan zikir dan doa." Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dulu, mungkin saya masih bagian dari definisi itu. Tapi sekarang? Saya mulai lebih sering menunda, lebih sering lupa. Padahal, Tuhan sendiri sudah menegaskan, “Mintalah, maka akan Aku beri.”

Foto bersama keluarga besar FAH 
kegiatan Family Gathering tahun 2023

Saya juga ingat bagaimana orang tua saya sangat konsisten mengingatkan kami untuk membaca Surah Yasin setiap malam Jumat, diikuti dengan Surah Al-Kahfi. Kebiasaan ini begitu melekat, hingga rasanya Surah Yasin sudah seperti Al-Fatihah—dihafal di luar kepala.

Tapi justru di situ masalahnya.

Suatu hari, saat membaca wa ja‘alna mim baini aydihim saddan, saya dengan santainya melafalkannya menjadi min baini dan saddang. Saya tidak sadar bahwa saya telah mengabaikan tajwid, karena merasa sudah terlalu hafal. Seperti ada teguran halus: hafalan itu tidak berarti apa-apa kalau tidak diiringi dengan kesadaran.

Dari pengalaman-pengalaman itu, saya semakin sadar bahwa agama bukan hanya perkara ritual, tapi bagaimana kebiasaan kita membentuk cara kita beragama. Bourdieu menyebut ini sebagai habitus—sekumpulan praktik yang kita serap sejak kecil, yang akhirnya menjadi bagian dari cara kita menjalani hidup.

Ketika habitus kita dibentuk dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai agama, ibadah menjadi hal yang melekat dalam keseharian. Tapi jika habitus berubah, misalnya, lingkungan sekitar kita tidak lagi mendorong kita untuk terus menjaga praktik keagamaan. Maka, perlahan-lahan, kebiasaan itu bisa memudar.

Jadi, agama sebagai perilaku tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam lingkungan, dalam kebiasaan yang terus-menerus kita jalani.

Pertanyaannya, apakah habitus kita saat ini masih mendukung kita untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama? Atau jangan-jangan, kita mulai larut dalam kebiasaan baru yang membuat kita semakin jauh dari agama yang kita yakini?

Senin, 10 Februari 2025

Selamat Datang Kembali

Yah, selamat datang kembali, mungkin adalah frasa yang tepat menggambarkan kembali aktifnya blog ini. Sejak 2012, blog ini dimulai, artikel yang terisi hanya 3 tulisan, itupun dari makalah sewaktu kuliah S1 Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam. Tahun 2015, kembali terisi 2 tulisan yang juga merupakan artikel hasil tulisan di jenjang perkuliahan.Sehingga ketika kembali melihat blog ini, mengingatkan banyak hal, proses hidup yang amat dinamis, berbagai bacaan, tontonan, pertemanan, perjalanan, tantangan dan ragam hal. 

bersama kawan Prodi SKI Ang. 2009 (Belum semua),
salah satunya Almarhum Bang Ipul yang berpulang lebih dulu

Saya ingat, sewaktu S1, salah seorang kawan bernama Husaini, kami panggil Uchenk, sangat intens dalam mengupdate blog-nya. Terkadang dalam sehari, rasanya kami yang bosan melihat uchenk, hanya duduk dengan segelas kopi dan hembusan asap, menerabas dunia maya. Saya ingat, uchenk itu hobi dengan segala hal terkait militer. Pesawat tempur inilah, rudal balistiklah, hingga layar laptop dan akun facebook serba militer. Uchenk memulai blognya tahun 2011, dengan nama blog Racik Meracik Ilmu, isinya serba-serba, mulai dari sejarah, budaya, filsafat, hingga "lagi-lagi" dunia militer, hehehe.

Rasanya menelusuri blog tersebut, seperti melihat betapa aktifnya kita menelusuri sumber, membaca, dan menulis dahulu. Ada beberapa makalah saya yang kemudian dipublish Racik Meracik Ilmu seperti Paradigma pendidikan Islam pada masa kejayaan Islam, Asal Usul Kerajaan Bone, Sejarah tarekat dalam Islam, pengaruh peradaban Islam di dunia, hingga Tarajum Ar-Rijal wa Thabaqat. 

Untuk Tulisan terakhir, pasti kawan-kawan mungkin akan bertanya, tulisan apa ini? kajian sastra atau apa? Terus terang saya sendiri bingung ketika diminta oleh dosen saya untuk menulis tugas tambahan. Yah, tugas tambahan, untuk memperbaiki nilai saya yang bermasalah. Dalam mata kuliah historiografi Islam, Prof Rahim, memberikan saya tugas mereview semua makalah teman-teman dengan menambahkan satu tema yaitu makalah Tarajum Ar-Rijal wa Thabaqat. Makalah tersebut membicarakan dua bidang dalam ilmu hadis dan sejarah Islam yang berkaitan dengan biografi perawi hadis serta klasifikasi mereka dalam jenjang keilmuan dan generasi. Sekali lagi terima kasih kepada kawan yang sudah mengabadikan tulisan tersebut di ruang-ruang maya.

Yah semoga blog ini mampu menjadi jurnal harian, mengkompilasi ide sekaligus merawat ingatan.

Sekali lagi, selamat datang kembali..

Agama adalah Perilaku dari proses Habituasi

Bagi saya, agama bukan hanya soal ibadah ritual, juga bukan hanya tentang seberapa sering kita sholat, seberapa fasih kita membaca Al-Qur’a...