Bagi saya, agama bukan hanya soal ibadah ritual, juga bukan
hanya tentang seberapa sering kita sholat, seberapa fasih kita membaca
Al-Qur’an, atau seberapa banyak doa yang kita hafal. Lebih dari itu, agama
adalah perilaku. Dan perilaku itu dibentuk oleh habitus—kebiasaan yang
terinternalisasi sejak kecil, yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari, hingga
tanpa sadar menjadi bagian dari diri kita.
Saya tumbuh dalam
keluarga yang menjadikan ibadah sebagai bagian dari ritme harian. Setiap subuh,
pintu kamar kami selalu diketuk oleh ayah atau ibu. Jika kami tak kunjung
bangun, jurus selanjutnya pun keluar: menekan badan kami sambil menggelitik. Tunggu
dulu kodonge… ku kumpul dulu nyawaku… Itu kalimat yang sering saya ucapkan
di tengah kantuk. Tapi, mau tak mau, akhirnya kami bangun juga, mengambil air
wudhu, dan sholat berjamaah.
Di rumah kami,
ibadah bukan sekadar kewajiban individual, melainkan kebiasaan kolektif yang
dilakukan bersama. Zikir dan doa sesudah sholat bukan hanya tambahan, tetapi
bagian dari rutinitas. Saat itu, saya tidak berpikir banyak soal maknanya, saya
hanya melakukannya karena begitulah yang diajarkan.
Tapi, waktu
berjalan. Kebiasaan yang dulu terasa default, perlahan-lahan berubah
seiring dengan perubahan lingkungan. Ketika jauh dari rumah, jauh dari
kebiasaan keluarga, saya mulai sering melewatkan momen-momen zikir dan doa itu.
Seorang kawan,
Majdy, pernah berkata, "Ciri santri itu, tidak pernah melewatkan zikir
dan doa." Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dulu, mungkin saya masih
bagian dari definisi itu. Tapi sekarang? Saya mulai lebih sering menunda, lebih
sering lupa. Padahal, Tuhan sendiri sudah menegaskan, “Mintalah, maka akan
Aku beri.”
Saya juga ingat bagaimana orang tua saya sangat konsisten mengingatkan kami untuk membaca Surah Yasin setiap malam Jumat, diikuti dengan Surah Al-Kahfi. Kebiasaan ini begitu melekat, hingga rasanya Surah Yasin sudah seperti Al-Fatihah—dihafal di luar kepala.
Tapi justru di
situ masalahnya.
Suatu hari, saat
membaca wa ja‘alna mim baini aydihim saddan, saya dengan santainya
melafalkannya menjadi min baini dan saddang. Saya tidak sadar
bahwa saya telah mengabaikan tajwid, karena merasa sudah terlalu hafal.
Seperti ada teguran halus: hafalan itu tidak berarti apa-apa kalau tidak
diiringi dengan kesadaran.
Dari
pengalaman-pengalaman itu, saya semakin sadar bahwa agama bukan hanya perkara
ritual, tapi bagaimana kebiasaan kita membentuk cara kita beragama. Bourdieu
menyebut ini sebagai habitus—sekumpulan praktik yang kita serap sejak
kecil, yang akhirnya menjadi bagian dari cara kita menjalani hidup.
Ketika habitus
kita dibentuk dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai agama, ibadah
menjadi hal yang melekat dalam keseharian. Tapi jika habitus berubah, misalnya,
lingkungan sekitar kita tidak lagi mendorong kita untuk terus menjaga praktik
keagamaan. Maka, perlahan-lahan, kebiasaan itu bisa memudar.
Jadi, agama
sebagai perilaku tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam lingkungan, dalam
kebiasaan yang terus-menerus kita jalani.
Pertanyaannya,
apakah habitus kita saat ini masih mendukung kita untuk tetap berpegang teguh
pada nilai-nilai agama? Atau jangan-jangan, kita mulai larut dalam kebiasaan
baru yang membuat kita semakin jauh dari agama yang kita yakini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar