Selasa, 20 Oktober 2026

Manusia di Bawah Kuasa Algoritma: Refleksi Sejarah dan Kebudayaan atas Homo Deus

Pernahkah kita menyadari bahwa apa yang kita lihat setiap hari di media sosial tidak sepenuhnya merupakan pilihan kita sendiri? Video yang muncul di beranda, berita yang dibaca, musik yang didengarkan, bahkan produk yang tiba-tiba terasa kita butuhkan, sebagian telah diseleksi oleh algoritma. Kita merasa bebas menentukan pilihan, padahal ada sistem yang terus mempelajari kebiasaan dan mengarahkan perhatian kita.

Persoalan ini mengingatkan saya pada Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, karya Yuval Noah Harari. Buku ini mengajak kita merenungkan masa depan manusia ketika teknologi tidak lagi sekadar membantu kehidupan, tetapi juga mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri. Pertanyaannya bukan hanya sejauh mana teknologi berkembang, melainkan juga apakah manusia masih memiliki kendali atas kehidupan yang dibangunnya.

Harari menjelaskan bahwa sepanjang sebagian besar sejarahnya, manusia berjuang menghadapi kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan organisasi sosial telah mengubah cara manusia menangani persoalan tersebut, meskipun ketiganya belum sepenuhnya teratasi. Kini, sebagian manusia mulai mengarahkan perhatian pada agenda baru: memperpanjang usia, mengejar kebahagiaan, dan meningkatkan kemampuan melalui teknologi. Manusia tidak lagi sekadar ingin bertahan hidup, tetapi juga berambisi melampaui batas-batas biologisnya.

Namun, sejarah mengajarkan bahwa setiap kemajuan membawa konsekuensi. Revolusi industri meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga melahirkan eksploitasi tenaga kerja dan ketimpangan sosial. Karena itu, kecanggihan teknologi masa kini tidak cukup dinilai dari efisiensinya. Kita perlu bertanya siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mengendalikan penggunaannya, dan siapa yang berisiko tertinggal.

Salah satu gagasan Harari yang menarik adalah kemungkinan bahwa algoritma dapat mengenal manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Platform digital mempelajari kebiasaan melalui riwayat pencarian, tontonan, pembelian, dan interaksi pengguna. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan apa yang akan menarik perhatian kita. Persoalannya, perkiraan itu pada gilirannya dapat memengaruhi perilaku dan cara kita memandang dunia.

Seseorang yang terus-menerus menerima informasi dengan pandangan serupa mungkin semakin sulit menerima perspektif berbeda. Anak muda yang terpapar standar kecantikan tertentu dapat mulai menilai dirinya berdasarkan standar tersebut. Teknologi, dengan demikian, tidak hanya merekam kebudayaan, tetapi turut membentuknya.

Gejala ini penting bagi studi sejarah dan kebudayaan. Sepanjang sejarah, manusia mewariskan pengetahuan melalui tradisi lisan, manuskrip, prasasti, dan berbagai peninggalan material. Percetakan, media massa, dan internet kemudian mengubah cara masyarakat menyimpan serta menyebarkan ingatan kolektif. Kini, mesin pencari dan kecerdasan buatan ikut memengaruhi cara orang menemukan informasi tentang masa lalu.

Bayangkan seseorang ingin mempelajari sejarah sebuah kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Jika sumber mengenai kerajaan tersebut masih terbatas dalam bentuk digital, informasi yang ditemukan melalui mesin pencari atau AI mungkin tidak menggambarkan kekayaan sejarahnya secara memadai. Bukan berarti teknologi sengaja menghapus sejarah lokal, melainkan ketersediaan sumber digital turut memengaruhi pengetahuan yang mudah ditemukan.

Karena itu, digitalisasi naskah, arsip, tradisi lisan, dan pengetahuan lokal menjadi penting. Namun, digitalisasi saja tidak cukup. Sumber sejarah harus diperiksa keasliannya, dipahami konteksnya, dan dibandingkan dengan bukti lain. AI dapat membantu penelusuran informasi, tetapi tidak menggantikan kritik sumber dan penalaran sejarawan.

Hal serupa terlihat dalam pelestarian kebudayaan. Tradisi lokal dapat memperoleh perhatian luas ketika videonya viral, sementara tradisi yang diwariskan selama berabad-abad mungkin kurang dikenal karena tidak sesuai dengan selera media sosial. Contohnya, Mappanre Temme di Sulawesi Selatan, tradisi yang berkaitan dengan penyelesaian pembacaan Al-Qur'an. Dokumentasi digital dapat memperkenalkannya kepada generasi muda. Namun, jika yang ditampilkan hanya seremoni tanpa penjelasan mengenai nilai pendidikan, makna keagamaan, dan konteks sosialnya, tradisi tersebut berisiko dipahami sebatas tontonan.

Keberhasilan pelestarian budaya karena itu tidak cukup diukur dari jumlah penonton atau tanda suka. Kita juga perlu melihat apakah makna tradisi dipahami, pengetahuannya diwariskan, dan masyarakat pemilik budaya dilibatkan. Kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang dapat ditampilkan di layar, melainkan praktik hidup yang mengandung nilai, ingatan, dan identitas kolektif.

Dalam Homo Deus, Harari juga membahas Dataisme, pandangan yang memberikan kedudukan penting kepada aliran dan pemrosesan data. Gagasan ini mengajak kita merenungkan kecenderungan masyarakat modern mengukur keberhasilan melalui angka, popularitas, dan efisiensi. Padahal, nilai kebudayaan tidak selalu dapat direpresentasikan melalui statistik. Sesuatu yang viral belum tentu penting, sebagaimana sesuatu yang jarang terlihat belum tentu kehilangan makna.

Di tengah perubahan tersebut, gagasan Harari menarik untuk dipertemukan dengan pandangan Islam mengenai kedudukan manusia. Jika Homo Deus menggambarkan ambisi manusia melampaui batas-batas biologisnya melalui teknologi, Islam menawarkan perspektif tentang manusia sebagai khalifah yang memikul tanggung jawab atas kehidupan di bumi. Al-Qur'an menyatakan:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Konsep khalifah memberikan sudut pandang penting dalam menghadapi perkembangan teknologi. Kemampuan manusia menciptakan mesin cerdas, mengolah data dalam skala besar, dan mengubah lingkungan bukanlah alasan untuk mengabaikan tanggung jawab moral. Sebaliknya, semakin besar kemampuan manusia, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap akibat dari tindakan tersebut.

AI, misalnya, dapat membantu mendokumentasikan manuskrip kuno dan memperluas akses terhadap pengetahuan sejarah. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan keakuratan informasi, konteks sejarah, serta hak masyarakat pemilik warisan budaya. Kemajuan tidak cukup diukur berdasarkan kecepatan dan kecanggihan, tetapi juga berdasarkan manfaat dan keadilan yang dihasilkannya.

Hal ini berkaitan pula dengan pendidikan. AI mampu merangkum buku sejarah dalam hitungan detik, tetapi kemampuan menghasilkan ringkasan tidak otomatis berarti memahami persoalan secara mendalam. Belajar sejarah bukan sekadar mengumpulkan fakta, melainkan juga menguji bukti, memahami perubahan, mengenali perspektif yang berbeda, dan merefleksikan pengalaman manusia. Karena itu, AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan otoritas yang tidak boleh dipertanyakan.

Membaca Homo Deus akhirnya membawa kita pada pertanyaan tentang arah perkembangan manusia. Teknologi dapat memperluas pengetahuan dan membantu pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi mempersempit perspektif dan memperbesar ketimpangan. Tantangannya bukan menolak teknologi, melainkan menggunakannya secara kritis tanpa kehilangan kemampuan untuk menimbang nilai, makna, dan tanggung jawab.

Bagi sejarawan dan pemerhati kebudayaan, tugas kita bukan hanya mendokumentasikan masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan sejarah tetap relevan untuk memahami perubahan zaman. Kita perlu mendigitalkan warisan budaya tanpa kehilangan maknanya, memanfaatkan AI tanpa mengabaikan kritik sumber, dan menerima kemudahan informasi tanpa kehilangan kebiasaan mempertanyakan kebenaran.

Pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang mengolah informasi, tetapi juga makhluk yang memberi makna dan memikul tanggung jawab. Barangkali, di sinilah perbedaan mendasar antara ambisi menjadi Homo Deus dan tanggung jawab sebagai khalifah. Persoalannya bukan semata-mata seberapa jauh manusia mampu mengembangkan teknologi, melainkan untuk tujuan apa kemampuan itu digunakan.

Sebab, kemajuan sejati tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan yang berhasil kita ciptakan, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam menggunakannya. Teknologi pada akhirnya adalah cermin dari nilai-nilai yang kita pilih untuk diperjuangkan.

Manusia di Bawah Kuasa Algoritma: Refleksi Sejarah dan Kebudayaan atas Homo Deus

Pernahkah kita menyadari bahwa apa yang kita lihat setiap hari di media sosial tidak sepenuhnya merupakan pilihan kita sendiri? Video yang m...